masyarakat dan komik

Masyarakat dan Komik

Ketika kita mendengar kata komik, barangkali pikiran kita langsung melayang pada masa kanak-kanak. Sebuah masa yang haus akan keinginan bermain dan berfantasi. Mungkin atas dasar demikianlah komik memiliki kekuatan yang boleh dikatakan luar bisa untuk berimajinasi. Sebuah spirit seorang bocah yg serba ingin tahu dan penuh daya khayal lengkap dengan kenakalannya. Sementara di pihak lain komik juga mendapat cap sebagai barang “terlarang” karena dianggap membuat malas, membuang-buang waktu dan menghambat pelajaran sekolah.

Lepas dari permasalahan nilai baik dan buruknya, komik menyimpan lahan luas untuk dijadikan bahan kajian. Selama ini komik masih relatif terpinggirkan dibanding bidang lain seperti sastra, seni lukis, drama dan berbagai bentuk ekspresi kesenian modern lainnya. Hal ini dimungkinkan oleh produksi komik yang bersifat massal—sebagaimana kelahirannya dalam bentuk komik strip di media massa—dan menjadi bagian dari budaya massa itu sendiri, sementara bidang kesenian modern lainnya ditempatkan sebagai seni tinggi atau elit yang penikmatnya bukan masyarakat biasa/umum. Kondisi semacam inilah yang cenderung membuat komik dipandang sebelah mata. Penikmat komik yang sangat luas dari berbagai umur dan kalangan masyarakat luas justru menandakan kedekatan antara komik sebagai medium dengan masyarakat luas sebagai pembaca.

Posisi komik sendiri di dalam masyarakat, lahir dan besar dalam industri budaya massa yang berpusat di kota-kota besar. Komik lebih banyak dijumpai di wilayah urban, ini menandakan bahwa ditribusi komik sebagian besar beredar di masyarakat perkotaan. Meski relatif, masyarakat urban adalah konsumen utama komik-komik populer. Komik sebagai produk budaya populer lebih banyak bersifat menghibur, sehingga komik dikonsumsi masyarakat seperti halnya barang-barang konsumsi lainnya. Dalam logika inilah kemudian proses pergesekan antara komik dan konsumennya (masyarakat) lebih bermuara pada kepuasan konsumen.

Sebagai sebuah produk budaya, komik tidak bisa lepas dari masyarakat tempat komik tersebut tumbuh dan berkembang. Komik boleh jadi adalah dokumen berharga untuk memahami masyarakat yang diwakilinya. Komik sebagai sebuah medium, di dalamnya merefleksikan semangat zamannya sendiri. Sebuah fase sejarah perkembangan masyarakat.

Potret Masyarakat Dalam Komik
Masyarakat dalam bayangan kita masih berupa konsep abstrak. Masyarakat adalah sebuah realitas yang objektif dalam arti masyarakat itu ada, sementara masyarakat menjadi realitas yang subjektif ketika masyarakat dimaknai secara personal oleh individu. Menurut Berger ada tiga momen penting dalam proses pembentukan masyarakat yaitu proses eksternalisasi, objektivikasi dan internalisasi. Proses eksternalisasi adalah proses aktif manusia ke dalam dunianya melalui kegiatan mental maupun fisik. Objektivikasi merupakan hasil yang dicapai, baik mental/fisik dari kegiatan tersebut. Internalisasi adalah penyerapan kembali realitas objektif ke dalam kesadaran subjektif. Komik adalah produk sebuah masyarakat, perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat akan cukup berpengaruh pada proses penciptaan komik. Dalam hal ini pandangan komikus terhadap dunia dan masyarakat akan selalu mengalami pemaknaan ulang pada kesadaran subjektifnya.

Dalam studinya tentang komik Indonesia, Marcel Bonnef mencatat fase-fase penting dalam evolusi komik Indonesia dari 1931 hingga tahun 1971. Yang menarik adalah pada awal perkembangannya (1931-1954), komik Indonesia banyak diwarnai oleh kondisi masyarakat yang masih merumuskan wawasan kebangsaannya. Komik strip pertama Indonesia justru diterbitkan oleh media Cina peranakan, surat kabar Sin Po, dengan tokoh Put On yang digambarkan sebagai orang Cina peranakan, berkarakter bodoh tapi baik hati, berbicara dengan dialek Jakarta. Ia digambarkan sebagai wakil rakyat kecil ibu kota, mempunyai rasa nasionalisme ketika ia menjadi sukarelawan berjuang merebut Irian Barat. Juga kisah patriotisme melawan Belanda dimuat harian Kedaulatan Rakjat, pengarangnya Abdulsalam. Untuk membendung serbuan tokoh komik kepahlawanan Amerika dibuat komik Kapten Komet yang serupa dengan Flash Gordon dan beberapa tokoh superhero lainnya.

Ketidaksukaan terhadap barat akhirnya menelorkan komik yang bersumber pada budaya lokal (1954-1960). Pada masa ini komik dengan cerita wayang sangat digemari. Sementara itu kebijakan politik nasionalisme ala Sukarno sedang gencar-gencarnya, banyak sekali komik perjuangan yang terbit. Ambisi Sukarno untuk mengangkat citra Indonesia sebagai negara paling depan menantang NEKOLIM dalam komik digambarkan Indonesia dengan roket luar angkasa bernama Pasiluum (Pantjasila untuk umat manusia) mengelileingi bumi membangun solidaritas anti kaum neokolinalis. Sekitar tahun 1965 muncul komik roman remaja yang menggambarkan kehidupan urban dan percintaan dengan gaya pakaian kebarat-baratan seolah merayakan kemenangan ideologi kebebasan. Pada perkembangannya komik semacam ini menjamur bahkan cenderung bersifat pornografis hingga ditertibkan oleh pihak kepolisian.

Pada fase-fase tersebut tercatat empat genre komik yang sangat digemari (sampai 1971) yaitu komik wayang, silat, humor dan remaja . Dari keempatnya mungkin bisa ditarik sebuah bentuk representasi realitas sosial dan nilai-nilai moralitas yang terkandung dalam komik.

Komik wayang menunjukkan masih mengakarnya basis kultural dan tradisi masyarakat. Sosialisasi nilai-nilai budaya lokal direpesentasikan melalui tokoh-tokoh wayang dengan cerita penuh pesan-pesan moral. Komik wayang memberi kontribusi pada generasi yang masih menikmati kesenian tradisional pada waktu itu. Begitu juga dengan komik silat, menunjukkan kebutuhan masyarakat akan jagoan yang membasmi kejahatan dengan latar budaya lokal, meski komik silat dengan latar budaya Cina juga disukai tapi sebagian besar komik silat mengambil latar budaya lokal, perlawanan terhadap penindasan dan kekerasan menjadi tema utama komik silat. Sementara sang pendekar selalu digambarkan sebagai manusia pengembara dan kesepian.

Komik humor juga mendapat tempat. Mitologi punakawan (semar, gareng, petruk, bagong)dalam wayang ternyata menjadi tokoh dalam komik humor. Tokoh-tokoh tersebut dalam komik humor diadaptasi ke bentuk kontemporer dengan pakaian modern. Lelucon yang ditampilkan adalah persoalan sehari-hari dari soal hantu, pencuri, cari pacar, dan juga kisah-kisah parodi. Penampilan mereka yang serba melarat dengan konservatisme terhadap nilai-nilai desa harus berhadapan dengan realitas serba modern dan serba urban seolah mewakili para pembaca setianya. Begitu juga dengan tokoh-tokoh non-punakawan lainnya, harus berhadapan dengan konflik nilai desa-kota dengan reaksi yang anekdotis.

Sementara komik roman remaja menggambarkan kondisi makin longgarnya nilai-nilai hubungan laki-laki dan perempuan. Problematika anak muda perkotaan menjadi tema utama terutama soal percintaan, keluarga, pernikahan dan kehidupan perkawinan.

Menjelang serbuan komik asing, pertengahan 70-an, cerita superhero juga banyak digemari. Banyak tokoh-tokoh superhero yang masih melekat dalam ingatan penulis, seperti Nusantara, Kapten Halilintar, Laba-laba Merah, Godam, Gundala dll. Dari sederet pahlawan super tersebut yang paling menonjol adalah serial Godam dan Gundala cipataan Wid NS dan Hasmi. Bagi masyarakat Indonesia kemunculan superhero dengan pakaian aneh di lingkungan mereka bisa terasa ganjil (dan ahistoris!!), mungkin cerita superhero adalah konsumsi anak-anak saja. Tapi keunggulan serial Godam dan Gundala adalah pembaca dewasa pun bisa menikmati ceritanya, dan salahsatu daya tariknya adalah humor-humor yang disisipkan dengan main-main. Kita mungkin akan tersenyum melihat Gundala dalam Gundala Cuci Nama berkejaran dengan musuhnya di arena sekaten dan masuk ke tobong wayang orang sementara salah seorang penonton kontan nyeletuk, “Gundala kok sempat-sempatnya nonton wayang orang!”

Atau kita mendengar makian-makian khas jogja “Gundulmu!!…dengkulmu!!”

Sebuah latar budaya yang sangat akrab dengan keseharian kita walau tokohnya seorang Superhero. Bahkan konflik cinta seorang jagoan seperti Gundala membuat dia seperti bukan superhero ketika Sancaka (identitas asli Gundala) bersama cewek yang ditaksirnya dikeroyok, ia memilih babak belur dipukuli untuk mendapatkan cinta si cewek daripada lari dan berubah jadi Gundala (walau apes cintanya ditolak).

Bahkan plesetan kata-kata sudah digunakan untuk nama tokoh dan tempat, dalam serial Godam Sang Kolektor ada planet Gijamzoe (dari rokok Dji Sam Soe), kemudian tokoh profesor Qaea Nuqu (itu anuku) dan Qaea Numu (itu anumu). Kedekatan-kedekatan idiom yang dipakai dalam komik dengan keseharian kita seolah mendekatkan jarak tokoh superhero yang kebarat-baratan menjadi sangat familier dengan latar budaya Jawa.

Zaman Gelap Komik Lokal
Pada pertengahan tahun 70an komik terjemahan mulai masuk di pasar Indonesia, kisah Tintin sudah mulai digemari. Menjelang 80an Lucky Luke, Asterix., komik superhero dari DC Comics, Donald Bebek membanjiri pasaran komik lokal seiring dengan menurunnya komik-komik lokal. Globalisasi komik-komik Jepang menjelang th 90an semakin meramaikan pasar lokal, bahkan komik Jepang yang populer disebut Manga menjadi salah satu komik yang paling digemari mengungguli komik-komik Amerika dan Eropa. Bius globalisasi budaya pop seolah menemukan zamannya bersama Coca cola, MTV, McDonald, Michael Jackson mencabut akar-akar kultural generasi 90an. Perubahan budaya yang mengalir deras dan matinya komik lokal makin menancapkan dominasi komik asing yang didukung struktur industri komik yang kuat. Kini pembaca komik sudah terbiasa dengan Asterix, Dragon Ball, Kung Fu Boy, Sailor Moon dan masih banyak lagi. Sedangkan komik lokal tersembunyi di lorong gelap belajar mengenali dirinya sendiri….***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: