Koperasi untuk Kesejahteraan Rakyat

Tak perlu dijelaskan apa makna tersurat dan tersirat dari terminologi ‘soko guru’ ini. Yang pasti ialah bahwa koperasi adalah motor pembangunan, penggerak utama ekonomi menuju kesejahteraan masyarakat.
Tetapi apakah makna seperti itu masih bergema di tengah masyarakat? Apakah koperasi telah menjadi bagian dari roda pembangunan?
Harus kita akui bahwa sebagai suatu institusi keuangan, koperasi belum berperan sekuat bank. Bank masih mendominasi penguasaan modal di negara ini. Tetapi dengan sifat dan karakternya yang lebih mementingkan kebersamaan dan solidaritas para anggotanya, koperasi jauh lebih tampan berada di hati masyarakat.
Kalau nasabah bank itu anonim satu sama lain, maka anggota koperasi saling kenal. Nasabah bank jarang dipertemukan, tetapi anggota koperasi sering dan bahkan wajib bertemu pada waktu Rapat Umum Anggota (RAT). Yang utama pada bank adalah besarnya modal/tabungan, yang utama pada koperasi adalah solidaritas, kebersamaan. Kekeluargaan kurang dikenal di bank, sebaliknya di koperasi aroma kekeluargaan sangat kental.
Itu sebabnya, di sejumlah negara seperti Thailand dan Swis, koperasi sudah begitu kuat mengakar. Orang lebih suka menabung dan bergabung di koperasi bukan terutama karena ingin mendapat banyak bunga dari sana, sebaliknya orang menabung dan bergabung karena juga ingin membantu sesama anggota lain agar semakin sejahtera.
Dengan landasan filosofi seperti ini, rasanya sudah sangat tepat langkah Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, bersama Wakil Gubernur, Ir. Esthon Foenay, menjadikan NTT sebagai Propinsi Koperasi. Sejak menjabat sebagai gubernur-wakil gubernur, duet ini gencar mengkampanyekan dan mengajak warga NTT untuk masuk menjadi anggota koperasi. Di hampir setiap kunjungan kerjanya ke desa-desa, gubernur dan wakil gubernur menyempatkan diri mengunjungi koperasi yang ada. Bahkan tak tanggung-tanggung, keduanya  juga mau menjadi anggota dan ikut memberikan sumbangan modal.
Dalam konteks koperasi, sumbangan pemerintah seperti ini tidak terlalu baik, karena justru melemahkan semangat anggota. Tetapi sejatinya yang ingin ditunjukkan gubernur-wakil gubernur dari sumbangan itu adalah tekad, kepedulian, keseriusan dari pemerintah  mengajak masyarakat untuk membentuk, menjadi anggota dan membesarkan koperasi.
Di beberapa kabupaten di daratan Flores, koperasi begitu mem-‘booming’. Bergema kuat dan jauh. Tumbuh di mana-mana. Punya ribuan anggota. Modalnya juga mencengangkan, sudah hitungan miliaran rupiah.  Kantornya lebih megah dari kantor bank. Manejemennya profesional.
Yang luar biasa, dari koperasi itu banyak anggota yang ekonominya terbantu. Banyak anak-anak petani bisa mengenyam pendidikan sampai di perguruan tinggi berkat koperasi. Usaha-usaha ekonomi berskala kecil di tengah masyarakat sangat terbantu dengan modal dari koperasi.
Kita harapkan, peringatan Hari Koperasi hari ini terus menumbuhkan kesadaran akan strategis dan pentingnya koperasi sebagai salah satu pilar utama ekonomi kerakyatan di daerah ini. Koperasi kuat, modal bertambah, kebersamaan terjalin, kesejahteraan para anggota akan meningkat.
Ada kesan kuat, dukungan terhadap tekad menjadikan NTT sebagai Propinsi Koperasi masih setengah hati. Tetapi juga kuat kesan dukungan yang setengah hati itu politis sifatnya. Kita harapkan urusan mensejahterakan warga dan urusan banyak orang jangan dibawa ke ranah politik.
Ayo, mari menjadi anggota koperasi. Lebih cepat lebih baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: